5 Cara Mengatasi Kemarahan Anak Yang Perlu Dilakukan Orang Tua

Written by Yuki on June 19, 2020 in Beberapa tips sebelum menjadi orangtua with no comments.

Banyak tokoh–tokoh ilmuan yang telah memberikan sumbangsih terhadap pendidikan Islam masa dinasti Umawiyah. Dari segi metode perkuliahanyang bertele-tele yang dikenal dengan nama Syarah al-Hawasyi,diusahakan dihilangkan dan diganti dengan metode pengajaran yang sesuai dengan perkem­bangan zaman. Pada awalnya banyak jamaah haji yang menolak kecuali sekelompok jamaah dari Yastrib. Jamaah Yastrib tersebut berasal dari kabilah Khazrajyang sangat antusias menerima pengajaran Nabi. Untuk meneruskan pendidikan dan pengajaran Islam yang telah dirintis Nabi tersebut seterusnya diserahkan kepada Mus’ab bin Umair seorang sahabat beliau yang telah mengikuti proses pendidikan Islam selama three tahun di rumah Arqam bin Abi Arqam.

Melatih kemampuan kontrol emosi pada anak di usia ini bisa dilakukan orang tua dengan mendorong anak untuk menenangkan diri saat situasi mulai membuatnya frustasi. Lalu berikan pujian atas usaha yang sudah mereka lakukan tersebut. Cara kedua belas untuk mengatasi anak pemarah adalah dengan menunjukkan sikap pengertian. Tidak hanya orang dewasa yang ingin dimengerti namun seorang anakpun juga ingin diberikan pengertian.

Kedua, Anda bisa pergi menjauh dulu dari si kecil, misalnya ke kamar. Jika sudah merasa lebih tenang, barulah mengajak anak berbicara dan memberikan arahan untuk tidak mengulangi perilakunya lagi secara tegas. Saat mendapati ulah si kecil yang menjengkelkan, Anda mungkin jadi naik pitam dan akhirnya berteriak atau membentak. Hindarilah luapan emosi ini dengan menenangkan diri dan membuat perasaan serileks mungkin.

Dari penelitian itu, terungkap bahwa jika seorang Ibu memarahi sampai membentak anak sejak mereka berusia thirteen tahun atau kurang, maka anak tersebut berisiko besar punya perilaku yang emosional saat tumbuh dewasa kelak. Salah satu cara efektif yang bisa Bunda lakukan untuk meredam emosi adalah memiliki waktu untuk menenangkan diri sebentar saja. Saat emosi ‘meledak’ jangan memaksakan diri untuk menghadapi Si Kecil.

atas pengaruh kedua dinasti yang mendominasi Abbasiyah, khalifah hanyalah sebagai symbol atau boneka yang tidak punya energy atas kuasa kekuasaan yang diembannya sebaga seorang penguasa Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Dinasty Abbasiyah telah didorong oleh keterbukaan kekaisaran, yang mana pada gilirannya sikap inclusive tersebut sebenarnya diilhami oleh sifat keterbukaan Islam itu sendiri. Para sarjana tersebut, bahkan menjadi inisiotor utama dari aktifitas itu, khususnya selama periode awal. Selain itu, Islam itu sendiri telah mendorong kaum Muslimin untuk mencari ilmu pengetahuan dan hikmah di manapun berada. Jadi, usaha untuk mengislamisasikan ilmu pengetahuan ilmu asing tersebut berdasarkan semangat ajaran Islam. Dan, bahkan beberapa sarjana Muslim telah dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya Yunani dan Persia, sebagian lainnya, telah sukses pula menciptakan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan dasar ajaran Islam yang monolistik.

Rasa takut yang dirasakan oleh orangtua bisa membuatnya sopantan untuk berteriak atau bahkan memukul anak. Setiap orangtua pasti pernah merasa kesal atau marah dengan perbuatan anaknya. Hal ini wajar, karena tiap orangtua pasti memiliki batas kesabaran tertentu dengan tingkah anak- anaknya. Yang jadi masalah adalah orangtua terkadang langsung melampiaskan emosinya dengan membentak anak. Mom bisa mengajarkan hal tersebut melalui kisah-kisah keteladanan seseorang melalui buku atau mainan audiovisual.

Membaca dapat menjadi solusi untuk menahan emosi yang sedang meluap-luap. Bacalah buku tentang komedi, kisah lucu, atau motivasi yang membuat pikiran jauh lebih tenang. Orangtua perlu memahami hal ini serta membantu anak agar bisa belajar dan tumbuh dari emosi negatif yang dirasakannya. Selama masa pertumbuhan anak, emosi alaminya akan bercampur dengan apa yang ia lihat dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, gaya parenting yang tepat akan sangat penting untuk mengendalikan emosi anak.

Cara  mengkontrol emosi kepada anak

Anak membutuhkan kesabaran, ketelatenan, serta kasih sayang dari orang tua. Terlepas dari seberapa berat beban hidup yang harus dipikul orang tua, tidak seharusnya menjadikan anak-anak sebagai ‘korban’ pelampiasan. Anak bukanlah tempat untuk melampiaskan emosi negatif kita sebagai orang tua. Menurut psikolog klinis Laura Markham, hal itu merupakan sikap kekakuan rapuh yang dapat menghancurkan hubungan anak dan orang tua akibat ledakan emosi yang terlalu besar. Jika Bunda dalam fase tersebut, nggak ada kata terlambat untuk memperbaiki sikap ya. “Ketahanan orang tua berfungsi sebagai tempat bagi anak-anak untuk melihat bagaimana dia menghadapi tantangan dan bagaimana memahami emosi mereka sendiri,” kata Dr Dan Siegel, penulis buku The Yes Brain, seperti dikutip dari laman NYTimes.

Terapkan batas tegas antara sikap disiplin dan memberinya kasih sayang, Bun. Markham menyarankan bahwa secara verbal mengakui perasaan dan menghibur anak-anak setelah kemarahan, tidak berarti harus menyerah pada kemauan mereka. Orang tua berperan besar dalam membentuk kematangan emosional sang anak. Orang tua yang memiliki tingkat emosi stabil, akan diikuti oleh anak-anak. Ingat, Bun, anak-anak adalah peniru sejati terhadap apa yang dilakukan orang tuanya. Cara mengendalikan emosi terhadap pasangan dapat dengan cara mengalah.

Comments are closed.